Apakah Anda pernah mendengar pertanyaan kenapa ada ilmu manajemen dan kenapa harus mempraktikkan ilmu manajemen dalam berbagai bidang kehidupan? Tentunya Anda sering mendengar pertanyaan itu di kelas-kelas perkuliahan manajemen atau dalam pelatihan-pelatihan manajemen. Jawaban yang relatif sama antara lain “agar semua teratur, agar semua terkendali, agar semua terencana dan terkontrol dengan baik, agar semua efektif dan efisien”.
Masih menjadi hot issue bagi para praktisi bisnis dan manajer sumber daya manusia, bahwa generasi milenial sebentar lagi akan mendominasi posisi-posisi strategis di perusahaan. Memimpin generasi ini punya keunikan tersendiri. Teori-teori kepemimpinan dan praktik performance management yang selama ini seolah sudah mengakar mulai terusik. Jika dulu pemimpin diposisikan sebagai pengambil keputusan mutlak, saat ini hak tersebut mulai dibagikan kepada para bawahan. Yang lebih unik lagi, beberapa perusahaan sudah meninggalkan Performance Appraisal yang justru bagi sebagian perusahaan merupakan ritual tahunan yang sakral.
Bekerja bukan sekedar tentang “Gaji tinggi atau rendah, nyaman atau tidak” tapi tentang “Syurga atau Neraka”
Sadarkah kita bahwa 60% – 70% waktu kita dalam sehari semalam dihabiskan untuk sebuah aktifitas yang kita sebut sebagai bekerja? Pernahkah Anda melakukan evaluasi sederhana bahwa sebanyak itulah kita menghabiskan waktu untuk bekerja, bahkan sudah sampai rumah pun kita masih disibukkan dengan pekerjaan, mulai dari membawa laporan ke rumah, atau sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan atasan atau rekan kerja di group-group kantor? Bahkan terkadang, dalam perjalanan pulang, yang harusnya menjadi waktu untuk switching dari nuansa kantor menjadi nuansa keluarga, harus disibukkan dengan menjawab pertanyaan email atau pesan singkat tentang pekerjaan. Pemakluman pun menjadi hal biasa saat kita melihat di sekeliling kita bahwa tekanan pekerjaan begitu dahsyatnya. Continue reading →